Tuesday, May 5, 2015

Profil dan Biografi Megawati Soekarnoputri

Profil dan Biografi Megawati Soekarnoputri | Bernama Lengkap Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri ataupun familier di sapa Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Bulan januari 1947. Se-belum diangkat selaku presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang kedelapan dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI kesatu yang jua proklamator, Soekarno dan juga Fatmawati. Megawati, kepada awalnya menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU, Surendro dan juga dikaruniai dua anak laki-laki bernama Mohammad Prananda dan juga Mohammad Rizki Pratama.

Kepada suatu tugas militer, tahun 1970, di kawasan Indonesia Timur, pilot Surendro bersama pesawat militernya hilang dalam tugas. Derita tiada tara, sementara anaknya masih kecil dan juga bayi. Namun, derita tersebut tidak berkepanjangan, tiga tahun lalu Mega menikah dengan laki-laki bernama Taufik Kiemas, asal Ogan Komiring Ulu, Palembang. Kehidupan keluarganya bertambah bahagia, dengan dikaruniai satu orang putri Puan Maharani. Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di Istana Negara. Semenjak masa kanak-kanak, Megawati telah lincah dan juga suka bermain bola bersama saudaranya Guntur. Selaku anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan juga sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung menuju Istana.


Perempuan bernama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, dia pernah belajar di dua Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan juga Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972). Kendati lahir dari keluarga politisi jempolan, Mbak Mega -- panggilan familier para pendukungnya -- tidak terbilang piawai dalam dunia politik. Lebih-lagi, Megawati sempat dipandang sebelah bola mata oleh kawan dan juga lawan politiknya. Beliau lebih-lagi dianggap selaku pendatang baru dalam kancah politik, yaitu baru kepada tahun 1987. Ketika tersebut Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya selaku keliru satu orang calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara.

Masuknya Megawati menuju kancah politik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun menuju dunia politik. Trauma politik keluarga tersebut ditabraknya. Megawati tampil men-jadi primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara. Ternyata memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan juga beliau pun terpilih men-jadi anggota DPR/MPR. Kepada tahun tersebut pula Megawati terpilih selaku Ketua DPC PDI Jakarta Pusat.

Tetapi, kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Tampaknya, Megawati tahu bahwa memang beliau masih di bawah tekanan. Selain memang sifatnya pendiam, belaiu pun memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik ketika tersebut. Maka belaiu memilih lebih banyak melaksanakan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation, tersebut dengan cara langsung ataupun tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Kepada tahun 1993 dia terpilih men-jadi Ketua Umum DPP PDI. Perihal ini amat mengagetkan pemerintah ketika itu.

Prosedur naiknya Mega ini adalah cerita me-narik pula. Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi. Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya. Kepada kongres ini, nama Mega muncul dan juga dengan cara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang didukung oleh pemerintah tersebut. Mega terpilih selaku Ketua Umum PDI. Lalu status Mega selaku Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah Nasional PDI di Jakarta.

Namun pemerintah menolak dan juga menganggapnya tidak sah. Sebab tersebut, dalam perjalanan selanjutnya, pemerintah mendukung kekuatan mendongkel Mega selaku Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs,
atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan Kongres PDI di Medan kepada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi Mega tidak gampang ditaklukkan. Sebab Mega dengan tegas menyatakan tidak mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya selaku Ketua Umum PDI yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, selaku simbol keberadaan DPP yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor tersebut.

Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi ancaman hendak merebut dengan cara paksa kantor DPP PDI tersebut. Ancaman tersebut lalu men-jadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Bulan juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega tersebut, menundang empati dan juga simpati dari masyarakat luas.

Mega terus berjuang. PDI pun men-jadi dua. Yaitu, PDI pimpinan Megawati dan juga PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan juga mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi selaku Ketua Umum PDI yang sah. Dampaknya, PDI pimpinan Mega tidak dapat ikut Pemilu 1997. Sesudah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama men-jadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan juga bermulut putih tersebut berhasil memenangi Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP tersebut menempatkan Mega kepada posisi ter patut men-jadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata kepada SU-MPR 1999, Mega kalah.

Tetapi, posisi ke-2 tersebut rupanya satu buah tahapan untuk lalu kepada waktunya memantapkan Mega kepada posisi selaku manusia nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Bulan juli 2001 anggota MPR dengan cara aklamasi menempatkan Megawati duduk selaku Presiden RI kelima menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati men-jadi presiden hingga 20 Bulan oktober 2003. Sesudah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri selaku presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau gagal untuk kembali men-jadi presiden sesudah kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang akhirnya men-jadi Presiden RI keenam.

Biodata:

Nama:
Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap:
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir:
Yogyakarta, 23 Bulan januari 1947
Agama:
Islam
Suami:
Taufik Kiemas
Anak:
tiga manusia, (dua putra, satu putri)

Karir:
:: Presiden Kelima RI (2001 – 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi:
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Bulan april 2000-2005 dan juga 2005-2009

Alamat Rumah:
:: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Perjalanan karir
satu. Anggota Gerak-gerik Mahasiswa Nasional Indonsia (Bandung), (1965)
dua. Anggota DPR-RI, (1993)
tiga. Anggota Fraksi PDI Komisi IV
empat. Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, Anggota FPDI DPR-RI, (1987-1997)
lima. Ketua Umum PDI versi
enam. Munas Kemang (1993-sekarang) PDI yang dipimpinnya berganti nama men-jadi PDI Perjuangan kepada 1999-sekarang
tujuh. Wakil Presiden RI, (Bulan oktober 1999-23 Bulan juli 2001)
delapan. Presiden RI kelima, (23 Bulan juli 2001-2004)
Perjalanan pendidikan
satu. SD Perguruan Cikini Jakarta, (1954-1959)
dua. SLTP Perguruan Cikini Jakarta, (1960-1962)
tiga. SLTA Perguruan Cikini Jakarta, (1963-1965)
empat. Fakultas Pertanian UNPAD Bandung (1965-1967), (tidak selesai)
lima. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972), (tidak selesai).

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Profil dan Biografi Megawati Soekarnoputri

0 comments:

Post a Comment